KIATNNEWA : MUNA – Deru mesin dan riuk gelombang di Pelabuhan Murhum, Kota Baubau, menjadi saksi keberangkatan Kontingen Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Muna menuju Jambore Nasional (Jamnas) XII tahun 2026 di Buperta Cibubur, Jakarta. Diiringi tangis haru dan sorak semangat, Muna resmi mengukir sejarah sebagai penyumbang kontingen terbesar dari Sulawesi Tenggara.
Sebanyak 86 anggota rombongan bertolak menggunakan kapal Pelni KM Ngapulu pada Kamis (7/8/2026), sehari setelah dilepas secara resmi oleh Bupati Muna sekaligus Ketua Mabicab, H. Bachrun. Rombongan ini terdiri atas 64 Pramuka Penggalang putra-putri terbaik, 8 Pembina Damping, 2 Pimpinan Kontingen Putera dan Puteri, 11 Pengurus Kwarcab, serta 1 Dokter Kontingen.
Namun, di balik megahnya acara pelepasan tersebut, terselip sebuah narasi humanis yang mengetuk nurani. Langkah kaki Ahmad Akbar (15) saat menaiki geladak kapal bukan sekadar perjalanan fisik melintasi lautan, melainkan simbol keberhasilan menembus batas keterbatasan hidup.
Siswa kelas 3 SMP Nauval Aqila asal Desa Lakarinta, Kecamatan Lohia, ini tumbuh dalam kesederhanaan yang mendalam. Sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara, hidup Ahmad jauh dari kata berkecukupan. Sejak duduk di bangku SD, sang ayah telah meninggalkannya, menyisakan perjuangan tunggal bagi ibunya yang mengadu nasib sebagai pengrajin tenun tradisional.
Tak ingin memangku tangan, Ahmad kecil tak canggung membanting tulang. Mulai dari membantu ibunya menenun sarung hingga menjajakan dagangan sebagai pedagang asongan di kawasan wisata Pantai Meleura, semua ia jalani demi membantu dapur tetap ngebul.
Kondisi ekonomi sempat mengikis rasa percaya dirinya. Selama pemusatan latihan (Training Center) hingga detik-detik keberangkatan, Ahmad kerap menyendiri. Di sudut ruangan saat jam istirahat, ia sering menahan air mata, merasa minder dan berbeda dari rekan-rekannya.
Namun, jiwa korsa Pramuka tak membiarkan siapa pun tertinggal. Kehangatan rekan-rekan di Regu Scorpio serta bimbingan telaten dari Pembina Pendamping perlahan meruntuhkan tembok isolasi diri tersebut. Ahmad menyadari bahwa di hadapan panggung arena lima tahunan ini, setiap anak memiliki hak yang sama untuk bermimpi dan berdiri tegak.
Tahun 2026 pun menjadi puncaknya kebanggaan sang ibu. Selain Ahmad yang menembus Jamnas XII, sang kakak juga lolos seleksi sebagai anggota Paskibraka Kabupaten Muna.
“Ada sedihnya, ada senangnya. Sedih karena terus memikirkan Mama sendirian di rumah, apalagi Kakak juga sedang karantina Paskibraka. Tapi bahagianya, saya bisa mendapat banyak teman baru,” tutur Ahmad jujur saat ditemui di atas kapal.
Perjalanan lintas pulau ini menjadi ujian kedewasaan pertama bagi Ahmad yang belum pernah terpisah jauh dari ibunya.
“Ini pertama kali saya tinggal jauh dari Mama. Kemarin sempat menangis, tapi sekarang tidak lagi. Saya harus kuat,” tegasnya dengan tatapan mantap.
Kini, rasa cemas itu bertransformasi menjadi energi positif. Sepanjang pelayaran menuju Jakarta, percaya diri Ahmad tumbuh pesat. Ia mulai melangkah keluar geladak, menyapa kawan-kawan Pramuka dari berbagai daerah, dan merajut jejaring persahabatan baru.
Sekretaris Kwarcab Muna, Anuardin, yang memimpin langsung rombongan menegaskan bahwa Jamnas adalah milik seluruh Pramuka Penggalang tanpa memandang latar belakang sosial.
“Ahmad Akbar adalah bukti nyata bahwa garis kemiskinan tidak pernah bisa membatasi garis cita-cita. Dari seorang anak pengrajin tenun dan pedagang asongan di Meleura, ia kini berdiri tegak membawa nama harum Kabupaten Muna di kancah nasional,” pungkas Anuardin.







