KIATNEWS : MUNA – Kawasan gua prasejarah Liangkabori di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, kembali menjadi sorotan dunia riset. Peneliti dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung sekaligus tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Hj. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum., menyatakan bahwa lukisan gua di kawasan tersebut merupakan yang paling unik dibandingkan situs prasejarah lainnya di dunia.
Pernyataan ini disampaikan Prof. Een usai merampungkan penelitian intensif selama dua tahun (2024–2026) bersama tim arkeolog BRIN dan akademisi Universitas Halu Oleo (UHO), Senin 13 Juli 2026.
“Saya mulai meneliti di Muna sejak 2024. Awalnya kami mendapat informasi ada 43 situs, namun setelah ditelusuri, kami justru menemukan 5 lokasi baru. Jadi, total ada 48 situs yang berhasil kami kunjungi dan teliti,” ujar Prof. Een.
Dalam penelitian ini, Prof. Een berkolaborasi dengan sejumlah pakar lintas disiplin, di antaranya Prof. Lutfi Yondri (Arkeolog BRIN), Prof. Kustini (Ahli Humaniora BRIN), serta tim dari UHO yang terdiri dari Prof. Dr. Ahmad Marhadi, Dr. Rahmat Sewa Suraya, Dr. Firmansyah, dan seniman senior Suhandi.
Keistimewaan Liangkabori Menurut Prof. Een, terdapat empat faktor utama yang menjadikan lukisan gua di Muna istimewa dan berbeda dari situs lain:
1. Keberagaman Motif : Lukisan menampilkan objek yang sangat beragam, mulai dari aktivitas berburu, memancing, menari, hingga penggambaran alat musik tradisional dan fauna, seperti sapi, kuda, kerbau, hingga bulu babi.
2. Kreativitas Tinggi : Masyarakat masa lalu di Muna telah menghasilkan karya seni dengan detail luar biasa meski hidup dalam keterbatasan.
3. Narasi Aktivitas : Lukisan tersebut menjadi “catatan sejarah” visual tentang kehidupan masa lalu, termasuk seni bela diri ewa wuna (pencak silat Muna), ritual, dan tari.
4. Keanekaragaman Hayati : Adanya gambar biota laut seperti bulu babi menjadi temuan langka yang jarang ditemukan di situs gua prasejarah lainnya.
Saran Strategis untuk Festival Liangkabori selain menyoroti keunikan situs, Prof. Een juga mengapresiasi suksesnya gelaran Festival Liang Kabori yang dihadiri Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon. Ia berharap pemerintah dapat segera mewujudkan kawasan ini sebagai destinasi wisata khusus.
Agar festival tersebut semakin mendunia, Prof. Een memberikan lima masukan strategis diantaranya sebagai berikut :
• Edukasi & Konservasi : Menjadikan Liangkabori sebagai “Lascaux-nya Indonesia” dengan melengkapi sarana edukasi seperti papan interpretasi berbasis AR/VR serta edukasi larangan menyentuh lukisan.
• Ekonomi Kreatif : Mengembangkan pasar kreatif lokal, pelatihan pemandu wisata, serta paket wisata terintegrasi dengan destinasi lain seperti Pantai Meleura dan Napabhale.
• Skala Global : Mendorong keterlibatan peneliti asing, mengadakan seminar arkeologi secara rutin, dan masuk dalam kalender Kharisma Event Nusantara.
• Digitalisasi : Melibatkan generasi muda melalui kompetisi konten digital dan pengembangan arsip museum virtual.
• Tata Kelola : Membentuk badan pengelola festival yang melibatkan pemerintah, akademisi, dan komunitas adat, serta mendorong adanya regulasi daerah terkait pendanaan berkelanjutan.
“Festival ini bukan sekedar hiburan. Jika dikuatkan melalui pilar konservasi, ekonomi warga, dan branding global, Liangkabori akan menjadi ikon peradaban Indonesia Timur yang membanggakan,” tutup Prof. Een.






